Perjalanan menuju Desa Adat Namata Tempat Para Dewa

Perjalanan menuju Desa Adat Namata  Tempat Para Dewa

       Akhir 2013 kebetulan Saya ke Kupang untuk mencari data tentang rumah adat suku Sabu, Setelah Saya terbang dari Jakarta ke Kupang kurang lebih sekitar 3 jam, karena ada perbedaan sekitar 1 jam dengan waktu Jakarta dihitung sekitar 4 jam :D, dari Jakarta jam 18:00 WIB dan ketika samapai di kupang sudah jam 22:00 WIT. Setelah mendarat akhirnya Saya di jemput oleh sepupu bersama ayah saya. Bisa harus melakukan ritual cium hidung dan berpelukan, seperti biasa kebiasan turun temurun.

          Sedikit Saya bagikan foto ciri khas kota Kupang, ibukota propinsi Nusa Tengara Timur (NTT)

Patung Sonbait icon di kota Kupang - NTT (dok Pribadi)

Patung Ina Bo'i icon di kota Kupang - NTT (dok Pribadi)


      Setelah istirahat paginya harus berangkat ke pulau Sabu meggunakan kapal feri untuk penyebrangannya, Perjalan lumayan menguras tenaga, karena waktu tempuh sekitar 11 - 13 jam dari Kupang - Sabu, sementara di atas kapal bercampur aduk antara manusia, barang dan hewan. Karena begitu banyaknya muatan akhirnya harus rela tidak tidur di atas kapal feri. Saya berangkat dari Kupang Sekitar jam 6 pagi dan tiba di pulau Sabu sekitar Jam 7 pagi. Akhirnya tiba juga di Kota Seba pulau Sabu. Setelah istirahat, saya keliling ke rumah saudara yang ada di sana. Seperti biasa adat di sini kalau bertemu saudara harus cium dengan menggunakan hidung. Dari rumah nenek saya diajak oleh paman ke desa adat Namata. Sebelum ke desa Namata saya bertemu dengan seorang ibu, saya sudah lupa namanya yang pasti saya mengambil foto ibu itu, kemudian saya berbincang untuk mencari informasi tentang rumah adat, setelah itu baru saya masuk ke rumah adat Namata berbincang dengan seorang bapak2 yang umurnya sudah di atas 50 tahun, meminta penjelasan tentang bentuk rumah adat dan makna dari bentuk rumah adat orang Sabu. Kalo dilihat bentuk rumah adat orang Sabu seperti perahu yang dibalik,

Rumah adat di Namata

             Setelah sampai di Desa Adat Namata, saya berkeliling untuk melihat, bentuk rumah, dan beberapa peningalan yang ada di desa adat. Di Desa adat Namata ada bebeapa rumah adat, rumah-rumah adat itu tersebut ada namanya sendiri-sendiri dan di diami oleh beberapa orang yang di tuakan. Yang unik dari desa adat ini ada tempat untuk upacara adat, yaitu terdapat batu-batu yang telah disusun rapih dengan bentuknya yang bisa di lihat pada foto di bawah ini.


Batu-batu tempat duduk tua-tua adat

Ada juga batu yang bergambar kapal layar, entah goretan di batu itu dari prajurit Portugis atau Belanda, yang pernah mampir di pulau Sabu.

 Batu yang bergambar kapal layar.

Sekian dulu  tunggu perjalanan selanjutnya..


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Perjalanan menuju Desa Adat Namata Tempat Para Dewa"

  1. This could be carried out in quantity of|numerous|a selection of} ways and has been a daily practice amongst casinos and roulette players. Many discover themselves} aware of the home edge nonetheless don’t really grasp its implications for his or her bankrolls. They fail to understand that the home edge applies not to their starting bankroll but to the whole quantity that they wager. The home edge varies considerably among the totally different casino games, with blackjack the bottom 카지노사이트 and keno the best. Don’t take your eyes off the silver ball as it drops into a slot on the roulette wheel and put together to cash in your chips.

    ReplyDelete