SETELAH 17 TAHUN SUDAH ENGKAU MENINGGALKAN KAMI SEMUA

Tujuh belas tahun yang lalu, tepat tanggal 10 Maret 2000 bapak meninggalkan kami semua, kembali kepangkuan Ilahi Robbi.  Meskipun sudah belasan tahun lalu bapak meninggalkan kami, namun masih teringat jelas di benakku saat aku, ibu dan adik-adikku kehilangan beliau.

Saat itu aku masih kuliah di Bogor. Kebetulan hari itu aku ada kuliah pagi dan siang hari. Biasanya setelah selesai kuliah pagi aku suka berkumpul dengan teman-teman sampai menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Tapi hari itu entah kenapa aku ingin kembali ke tempat kosku. Pikiran rasanya ga enak, tapi entah aku tak tau ada apa. Tidak lama aku berada di dalam kamar kosku, tiba-tiba kakak kelas di kosanku bilang kalau ada telepon buat aku. Ternyata yang telepon itu adalah salah seorang guru yang juga rekan kerja bapakku. Beliau bilang kalau bapakku sakit dan meminta aku untuk pulang ke rumah. 

Perasaanku jadi kacau dan bingung, karena pertama biasanya kalau bapakku sakit, ibuku jarang menghubungi aku. Kedua bapakku yang memang punya penyakit komplikasi diabetes dan liver sering kali dirawat di rumah sakit dan itu juga orangtuaku jarang kasih tau, paling pas aku pulang setiap weekend aku baru tahu kalau bapakku dirawat atau pas aku yang telepon dan menanyakan kabar baru diinfo. Ketiga kenapa bukan ibuku yang menghubungiku, tapi orang lain yang memberitahu kalau bapakku sakit.

Pikiran saat itu menjadi tidak menentu, aku menangis, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan bapakku. Teman-teman di kosan berusaha menghiburku dan menenangkanku. Salah seorang teman kosanku akhirnya mengantarku pulang ke Jakarta. Di bus yang membawa kami dari Bogor ke Jakarta pikiranku semakin kacau, aku tidak bisa berfikir jernih, air mata perlahan-lahan keluar dari mataku.

Setelah aku dan temanku turun dari bus, kita sambung lagi dengan angkutan yang lain. Setelah turun dari angkutan tersebut, tampak dari kejauhan aku melihat tenda di depan rumahku. Aku menangis sejadinya saat itu,sambil bilang ke temanku, “Itu ada tenda Cik di rumahku, berarti bapak....”. Aku ga sanggup lagi bicara. Temanku berusaha menenangkanku, namun aku ga sanggup lagi. Tiba-tiba semua gelap, kepalaku pening dan aku akhirnya tak sadarkan diri sebelum tiba di depan rumahku.
Aku pun digotong ke dalam rumah. Setelah aku sadarkan diri, aku masih dalam kebingungan, sebenernya ada apa, kenapa ada tenda, lalu kemana bapakku, di mana bapakku. Aku berlari menemui ibuku. Ibuku terlihat sedang dikelilingi saudara dan guru-guru teman bapakku. Ibuku terlihat menangis, aku segera memeluknya. Namun tiba-tiba aku merasa gelap kembali dan akupun tak sadarkan diri lagi.

Setelah aku sadar untuk yang kedua kalinya, saudaraku menyampaikan berita itu. Ya bapakku telah tiada. Tapi kenapa jenazahnya tidak ada di rumah dan kemana. Ternyata bapakku tidak meninggal di rumah, bapakku meninggal di kota lain, di kota Garut. Kebetulan bapakku mengantar salah satu tetangga yang akan menikah dengan orang Garut. Tetangga tersebut meminta bapakku untuk menjadi saksi di acara pernikahannya. Setelah acara selesai, bapakku mengeluh sakit dan di bawa ke rumah sakit. Waktu di rumah sakit sempat koma namun kembali membaik. Saat kondisi agak baikkan, ibuku menelepon ke sana dan ternyata bapakku katanya sedang ke kamar mandi, nanti kalau sudah balik dari kamar mandi katanya akan dihubungi kembali. Namun tidak sampai satu jam setelah telepon, tetangga tersebut mengabarkan kalau bapakku telah tiada. Menurut keterangan mereka, setelah dari kamar mandi itu bapakku sempat ngedrop dan akhirnya ga bisa tertolong lagi.

Setelah mendapat kabar itu keluargaku meminta jenazah bapakku segera dibawa ke rumahku. Adik bapakku menelepon berkali-kali supaya jenazah bapakku dan memang harus segera dibawa kembali ke Jakarta. Namun berhubung sebelumnya bapakku pas menghadiri acara tetangga tersebut menginap di tempat wisata, maka kejadian itu diselidiki oleh polisi (takut ada motif yang lain atas meninggalnya bapakku). Setelah proses penyelidikan selesai, jenazah bapakku baru bisa dibawa kembali ke Jakarta.

Sekitar jam 8-9 malam jenazah bapakku akhirnya tiba di rumah. Murid-murid, wali murid, tetangga, guru menunggu kedatangan jenazah bapakku. Antara percaya dan tidak aku melihat jasad bapakku terbujur di depanku. Aku pegang tangannya, kepalanya, terasa dingin. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ya Allah, ternyata bapakku telah kembali kepadaMU. Ini nyata, ini bukan mimpi. Saat itu aku hanya bisa berdoa, ampuni bapakku ya Allah, tempatkan bapakku di tempat yang layak di sisi-Mu dan terimalah amal ibadahnya selama hidup di dunia. Aamiin ya robbalalamin.

Jenazah bapakku hanya sebentar saja di rumah kami, karena akan dibawa ke rumah nenekku. Ya, nenekku meminta supaya untuk yang terakhir kalinya bapakku ada di rumah nenekku. Akhirnya bapakku dibawa dan disemayamkan di rumah nenekku. Sampai di rumah nenekku, beliau menangis dan memeluk ibuku, aku dan adik-adikku. Beliau sangat terpukul dengan kehilangan salah satu anak lelakinya yang sangat disayangi. Akupun akhirnya menangis lagi.

Malam itu aku perhatikan wajah bapakku terus sambil kubacakan doa untuknya. Keesokan harinya jenazah bapakku dimakamkan di dekat makam kakekku dan budeku. Meskipun sudah beberapa hari bapak meninggalkan kami, namun aku merasa bapakku masih ada, bapakku masih mengajar di sekolah. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa bapakku benar-benar sudah pergi. Namun begitu banyak hal yang menjadi pelajaran buatku dari bapakku :
  • Kalau menolong orang jangan setengah-setengah (harus tuntas). Ini karena sebelum bapakku berangkat ke Garut menemani tetangga tersebut, adik bapakku dan tetangga lain sudah memberitahu supaya jangan ke sana, ga usah ikut ke sana. Tapi bapakku bilang kalau menolong orang jangan setengah-setengah, harus tuntas dan sampai selesai.
  • Menolong orang jangan lihat ras, suku, agama dan lainnya. Intinya jangan pilih-pilih kalau mau menolong orang.
  • Mempunyai semangat hidup dan pantang menyerah. Bapakku sudah sejak lama terkena komplikasi dan sering kali bolak balik masuk rumah sakit, namun beliau tetap semangat dan tidak gampang putus asa.
  • Disiplin, sebagai guru bapakku salah seorang guru yang mempunyai rasa dispilin yang cukup tinggi. kalau ada murid yang melanggar aturan, so pasti kena hukuman. Kalau benar ya benar, kalau salah ya salah, tidak pandang bulu. Aku pun pernah merasakan hukuman saat di kelas dan aku pun menerimanya karena aku yang salah.
  • Bergaul dan berteman dengan siapa saja selama mereka tidak membawa kepada keburukan.
  • Menjaga tali silaturahmi terutama dengan keluarga. Kalau ada waktu pasti bapakku selalu berkunjung ke rumah sodara, ya tujuannya itu untuk menyambung dan menjaga silaturahmi.


Dan kemarin, 10 Maret 2017, aku kembali mengenangmu. Bapak, hanya doa yang bisa aku panjatkan untukmu, semoga bapak ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah, semoga bapak diampuni segala kesalahan dan diterima segala amal ibadah bapak. Aamiin ya robbalalamin. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SETELAH 17 TAHUN SUDAH ENGKAU MENINGGALKAN KAMI SEMUA"

Post a Comment